Menjaga Keutuhan Pahala Puasa


Dunia Iman - Alhamdulillah berkat karunia dari Allah kita dapat melaksanakan ibadah puasa dengan penuh keimanan, semoga kita selalu dalam keadaan sehat dan dalam lindungan Allah SWT. Amin Ya Robbal ‘Alamin.

Pada kesempatan kali ini, penulis akan menyampaikan tema yang penting, yaitu bagaimana menjaga keutuhan pahala ibadah puasa. Sebab, alangkah ruginya seseorang jika sudah mengerjakan amal ibadah, namun tidak mendapatkan pahala.

Nabi Muhammad SAW bersabda,"Hendaknya kamu berkomitmen terhadap puasa, karena sesungguhnya puasa merupakan ibadah yang tiada tandingannya. (HR An-Nasai)

Dalam hadis ini, Rasulullah SAW berpesan agar kita bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ibadah puasa dan menjaga keutuhan pahala setelah kita menunaikannya. Karena keunggulan puasa yang tidak tertandingi ibadah lainnya adalah aspek perolehan pahala. Rasulullah SAW bersabda,"Tidak ada kebaikan yang dikerjakan anak Adam kecuali akan ditulis untuknya sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat. Allah SWT berfirman: kecuali puasa, maka sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya." (HR An-Nasai)

Berdasarkan hadis ini, sebagian besar ulama berpendapat bahwa pahala puasa itu lebih dari tujuh ratus kali lipat. Oleh karena itu, kita harus menjaga keutuhan pahala ibadah puasa kita dengan melakukan langkah-langkah berikut.

Pertama, tidak menggugurkan pahala ibadah dengan kekufuran dan kesyirikan.
Jangan sampai kita menggugurkan seluruh amal ibadah dan ke-Islaman kita dengan melakukan dosa-dosa yang bisa menggugurkan syahadat kita, di antaranya adalah kesyirikan. Allah SWT berfirman,“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu, termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Az Zumar: 65)

Barangkali ada yang berkata: sungguh tidak bisa dinalar, apabila ada seseorang yang telah melakukan amaliah ibadah di bulan Ramadan secara maksimal, tetapi setelah Ramadan, ia melakukan kesyirikan atau dosa-dosa lain yang menggugurkan ke-Islaman.

Namun kalau kita perhatikan hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil. Karena pada akhir-akhir ini, sering kali pemerintah daerah melakukan kegiatan kemusyrikan berkedok budaya. Misalnya, mengarak kereta kencana yang diberikan sesajen dan kepala kerbau, kemudian diarak keliling kota untuk mengharap keberkahan Nyi Roro Kidul. Banyak di antara kita mengikuti ritual tersebut. Tentu saja hal ini dapat merusak dan menggugurkan ke-Islam-an kita karena masuk ke wilayah i’tiqodi dan keyakinan.

Kalau mengikuti acara tersebut berarti kita telah menyerupai mereka dalam masalah akidah. Rasulullah SAW bersabda,"“Barang siapa yang meniru satu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (HR Abu Dawud)

Kedua, tidak menggugurkan pahala ibadah kita dengan melakukan dosa-dosa.
Jangan sampai kita menggugurkan pahala amal ibadah dengan bersikap sombong dan ria setelah melakukannya. Para ulama salaf mengatakan,“Seandainya kamu melakukan suatu dosa di malam hari, lalu kamu bersedih di pagi harinya, hal itu lebih baik daripada kamu melakukan suatu kebaikan di malam hari, lalu pagi harinya kamu menyombongkan diri dengan kebaikan tersebut."

Ketiga, tidak menyia-nyiakan pahala ibadah dengan perbuatan maksiat.
Dengan melakukan kemaksiatan kepada Allah, berarti kita telah mengumpulkan dosa meskipun sebelumnya kita telah berhasil mengumpulkan pahala di sisi Allah. Sangatlah berbahaya apabila dosa-dosa yang kita lakukan justru jauh lebih besar dan berat daripada pahala yang telah kita kumpulkan.

Allah berfirman,"Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)-nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan ada pun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)-nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Haawiyah. (QS Al-Qaari’ah : 6-9)

Keempat, tidak memindahkan pahala ibadah kepada orang lain dengan menyakitinya.
Jika kita menyakiti seseorang, maka pahala kebaikan kita justru akan berpindah kepadanya. Rasulullah SAW pernah bertanya kepada para sahabat,“Tahukah kalian siapakah orang yang muflis (bangkrut) itu?

Para sahabat menjawab,"Orang yang muflis (bangkrut) di antara kami adalah orang yang tidak punya dirham dan tidak punya harta. Rasulullah SAW bersabda: orang yang muflis (bangkrut) dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) melaksanakan salat, menjalankan puasa, dan menunaikan zakat, namun ia juga datang (membawa dosa) dengan mencela si ini, menuduh si ini, memakan harta ini dan menumpahkan darah si ini serta memukul si ini. Maka, akan diberinya orang-orang tersebut dari kebaikan-kebaikannya. Dan jika kebaikannya telah habis sebelum ia menunaikan kewajibannya, diambillah keburukan dosa-dosa mereka, lalu dicampakkan padanya dan ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR Muslim, Turmudzi & Ahmad)

Itulah pemaparan singkat mengenai kewajiban menjaga keutuhan pahala amal ibadah setelah kita berhasil melakukannya. Jangan sampai pahala yang sudah kita raih, hilang atau berpindah kepada orang lain karena dosa dan kesalahan kita. Wallahu a’lam bisshowab